PERTOLONGAN TUHAN TAK PERNAH TERLAMBAT

Tik... Tik.. Tik.... air hujan perlahan membasahi kaca sebuah mobil L300 berwarna biru tua. Pengemudinya adalah seorang Bapak yang berusia sekitar 33 tahun. Ia membawa istri dan kedua anaknya, serta satu pasangan suami-istri. Mereka hendak pergi ke daerah Nanggroe Aceh Darussalam, daerah yang pada saat itu terkesan kurang aman.

Di tengah gerimis yang sejuk pagi itu, tiba-tiba .... Tuk..tuk..tuk....Beberapa orang bersenjata mengetuk kaca mobil tua itu. “Turun..turun..!”, ujar salah seorang dari anggota komplotan tersebut. “Angkat tangan..!”, ujarnya lagi. “Bawa mereka..!”, kata orang tersebut kepada rekannya. Pak Andreas beserta anggota keluarganya dan sepasang penumpang lain tersebut langsung dibawa oleh anggota komplotan tersebut ke dalam hutan. Anggota separatis yang ditakuti oleh masyarakat setempatlah yang menyandera mereka. Setelah sekian lama beroperasi, dan beberapa di antaranya ada yang ditangkap. Ternyata mereka masih belum jera juga. Dengan membawa persenjataan yang lengkap, komplotan tersebut menggiring kedua keluarga itu berputar-putar mengelilingi hutan. Dengan tujuan agar mereka bingung mencari jalan keluar, sehingga mereka tidak melarikan diri. “Lepaskan kami...!”, ujar Pak Andreas, ia berusaha memberontak. “Buk....buk”, mereka memukul tubuh Pak Andreas menggunakan senjata senapan laras panjang.

“Aaahhh...!!”, teriak Pak Andreas menahan sakit. Istrinya yang sedang menangis sontak kaget mendengar teriakan itu. Perasaan takut, cemas, dan sedih bercampur menjadi satu dalam benak Bu Marietta. Kedua putra mereka, yang belum mengerti hanya bisa terdiam melihat penderitaan yang dialami oleh orang tuanya. “Diam.. dan jangan melawan!”. Karena banyaknya jumlah anggota tersebut, dan tidak memungkinkan untuk melawan, akhirnya Pak Andreas memilih untuk diam. Gerimis yang lambat laun semakin deras menambah dinginnya udara pagi yang menusuk tulang. Cahaya kilat yang sesekali melintas dalam hitungan detik, membuat mereka semakin ketakutan. Entah hal apa yang akan terjadi pada kedua keluarga tersebut. Pak Andreas beserta keluarganya, yang terdiri dari Bu Marietta, Istrinya, dan kedua puteranya yang masih kecil. Mereka hendak berkunjung ke kampung halamannya yang terletak di daerah tersebut. Mujur tak dapat di raih, malang tak dapat di tolak. Mungkin itulahperibahasa yang dapat dikatakan untuk kondisi yang terjadi pada keluarga Pak Andreas pada saat itu. Niat mereka hendak pulang ke kampung halaman dan bertemu dengan keluaga besar. Ternyata, berujung kekecewaan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENGERTIAN PENGENDALIAN DIRI